Ilustrasi seseorang yang berjalan melewati empat era teknologi dari zaman prasejarah dengan batu runcing dan api, era pertanian dengan bajak dan roda air, era industri dengan mesin uap, hingga era digital dengan laptop dan jaringan - menggambarkan perjalanan panjang teknologi yang terus berkembang sepanjang sejarah manusia. Ilustrasi dibuat menggunakan Nano Banana Gemini

Dari Batu ke Komputer Saku


Menurut sejarah, manusia butuh se`kitar dua juta tahun untuk bergerak dari membuat batu runcing1 sampai ke membuat roda2. Tapi hanya butuh lima puluh tahun untuk berpindah dari komputer sebesar gedung3 ke komputer kecil yang ada di saku kita saat ini4.

Apa yang berubah? Bukan kecerdasan manusianya, melainkan kecepatan kita mewariskan pengetahuan, menumpuk pengalaman, dan membangun sesuatu di atas fondasi yang sudah ada.

Dan kalau diperhatikan dengan seksama, ada satu pola yang terus berulang sepanjang dua juta tahun itu.

Era Prasejarah - Teknologi untuk Bertahan Hidup

Bayangkan manusia zaman dulu yang mengambil batu dan menyadari bahwa benda itu bisa dipakai untuk memotong. Itu bukan kecelakaan. Itu adalah momen ketika manusia zaman dulu bertanya, “Adakah cara yang lebih baik dari ini?”

Di era prasejarah, teknologi terlihat sangat sederhana tapi sangat bermakna. Batu runcing untuk berburu, api untuk menghangatkan tubuh dan memasak, dan tombak untuk menjangkau mangsa. Setiap alat lahir dari satu pertanyaan yang sama “Bagaimana aku bisa bertahan hidup lebih baik hari ini dibanding hari kemarin?”

Teknologi di era ini adalah tentang satu hal, yaitu kelangsungan hidup.

Era Pertanian - Teknologi untuk Efisiensi

Sekitar dua belas ribu tahun lalu, manusia mulai berhenti berpindah-pindah dan mulai menetap. Kita mulai menanam, memelihara ternak, serta membangun tempat tinggal yang permanen.5

Dari sinilah, kebutuhan manusia mulai bergeser. Bukan lagi sekadar bertahan hidup, tapi bagaimana caranya menghasilkan sesuatu yang lebih banyak dengan menggunakan tenaga yang lebih sedikit.

Diantaranya lahirlah alat alat lain seperti cangkul, sistem irigasi, roda, bajak, dan sebagainya. Bukan untuk berperang atau berburu, tapi untuk mengolah tanah dengan cara yang lebih efisien. Teknologi di era ini adalah tentang produktivitas, bagaimana satu orang bisa mengerjakan apa yang sebelumnya membutuhkan sepuluh orang.

Era Industri - Teknologi untuk Otomasi Tenaga

Lompat ke abad ke-18. Manusia menemukan bahwa uap bisa menggerakkan mesin. Dan dunia tidak pernah sama lagi sejak saat itu.6

Revolusi Industri bukan sekadar soal penemuan mesin uap. Ini adalah momen ketika manusia pertama kali memindahkan beban fisik dari punggung ke sebuah mesin. Pabrik menggantikan produksi rumahan (home industry). Kereta api menggantikan kuda. Mesin tenun menggantikan pengrajin tenun.

Yang diotomasi di era ini adalah tenaga fisik. Pekerjaan yang butuh otot, kecepatan, dan pengulangan, semua dipindahkan ke mesin.

Tapi ini melahirkan masalah baru. Kalau mesin bisa mengerjakan tugas fisik, siapa yang mengelola semua informasi yang dihasilkan? Siapa yang menghitung, mencatat, dan menganalisis?

Era Digital - Teknologi untuk Otomasi Informasi

Pertengahan abad ke-20. Komputer pertama muncul. Ukurannya sebesar gedung, butuh ratusan orang untuk mengoperasikannya, dan hanya bisa mengerjakan kalkulasi matematis sederhana.7

Tapi itu sudah sangat cukup untuk membuktikan satu hal, kalau mesin ternyata bisa berpikir, dalam artian yang sangat terbatas, tapi bisa.

Dari sana, teknologi berakselerasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dimana komputer mulai mengecil, menjadi lebih murah, lebih cepat. Kemudian lahirlah internet, telepon genggam, dan akhirnya komputer yang muat di saku kita, dengan kekuatan jutaan kali lipat dari komputer yang pertama kali diciptakan.

Yang diotomasi di era ini bukan lagi tenaga fisik, tapi informasi. Pencarian data yang dulu butuh berhari-hari kini selesai dalam sepersekian detik. Komunikasi yang dulu butuh berminggu-minggu kini bisa dilakukan secara instan.

Era AI — Teknologi untuk Otomasi Kognisi

Jika era digital adalah tentang bagaimana kita menyimpan dan mengirimkan informasi, maka era yang kita nikmati hari ini adalah tentang bagaimana informasi itu diproses dan dipahami tanpa campur tangan manusia secara terus-menerus.

Kecerdasan Buatan (AI) membawa kita pada lompatan yang berbeda lagi. Kita tidak lagi sekadar membuat alat yang menunggu perintah “jika ini, maka lakukan itu.”. Tapi kita mulai membangun sebuah sistem yang mampu mengenali pola, belajar dari pengalaman, dan mengambil keputusan sendiri.

Yang diotomasi di era ini sudah bukan lagi otot, bukan pula sekadar kecepatan akses data, melainkan kognisi. Proses menalar, menganalisis, bahkan berkreasi, kini mulai berpindah ke komputer.

Jika mesin uap adalah “otot eksternal” yang membantu fisik kita, maka AI adalah “otak eksternal” yang membantu pikiran kita. Namun, seperti era-era sebelumnya, solusi ini membawa kegelisahan baru. Di mana batasan antara peran manusia dan peran mesin? Bagaimana kita tetap menjadi tuan atas alat-alat yang sudah bisa “belajar” sendiri?

Pola yang Selalu Berulang

Kalau kita perhatikan keempat era itu, ada satu pola yang tidak pernah berubah.

Masalah muncul. Manusia bereksperimen. Solusi ditemukan. Solusi itu melahirkan masalah baru. Kembali ke awal. Dan begitu seterusnya.

Batu runcing membantu manusia berburu lebih efisien, tapi membuka masalah baru tentang bagaimana menyimpan hasil buruan lebih lama. Pertanian memungkinkan manusia menghasilkan lebih banyak makanan, tapi menciptakan kebutuhan akan sistem perdagangan dan pencatatan. Mesin industri mengotomasi tenaga fisik, tapi menciptakan kebutuhan akan mesin yang bisa mengelola informasi.

Setiap solusi merupakan akar dari masalah berikutnya. Dan dari setiap masalah, lahir teknologi baru.

Manusia Tidak Pernah Merasa Cukup

Sejarah teknologi, kalau dibaca dengan benar, bukan sekadar daftar penemuan yang mengagumkan. Ini adalah cermin dari sifat manusia yang paling mendasar, kita tidak pernah merasa cukup.

Bukan dalam artian yang negatif. Justru sebaliknya, ketidakpuasan itulah yang menjadi mesin penggerak peradaban. Setiap generasi mewarisi solusi dari pendahulunya, menemukan keterbatasan baru di dalamnya, lalu menciptakan solusi berikutnya.

Dulu kita menciptakan alat untuk memperpanjang jangkauan tangan, yaitu tombak untuk dilempar ke hewan buruan. Lalu alat untuk membantu kerja otot, yaitu mesin uap. Kemudian alat untuk mempercepat dan menyimpan ingatan, yaitu komputer. Dan kini, kita menciptakan alat untuk mempercepat pengambilan keputusan, yaitu AI.

Kita adalah bagian dari rantai panjang itu.

Memahami pola sejarah ini akan mengubah cara kita melihat teknologi yang kita gunakan setiap hari, termasuk AI. Mereka bukanlah sihir yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari jutaan pertanyaan yang diajukan oleh jutaan manusia sebelum kita.

Selama manusia masih memiliki rasa ingin tahu dan rasa tidak puas, sejarah ini tidak akan pernah selesai ditulis. Kita hanya sedang berpindah dari satu pertanyaan besar ke pertanyaan besar berikutnya.


Catatan
Tulisan ini merupakan versi teks dari episode podcast “Sebelum Ngoding” yang bisa didengarkan di platform Spotify atau Noice.

Referensi:

  1. https://www.smithsonianmag.com/science-nature/who-made-the-first-stone-toolkits-180981606/ 

  2. https://ouriraq.org/article/invention-wheel-c3500-bce 

  3. https://www.computerhistory.org/revolution/birth-of-the-computer/4/78 

  4. https://en.wikipedia.org/wiki/IBM_Simon 

  5. https://www.nationalgeographic.com/culture/article/neolithic-agricultural-revolution 

  6. https://education.nationalgeographic.org/resource/industrial-revolution-and-technology/ 

  7. https://www.britannica.com/technology/computer/The-first-computer