Ilustrasi seseorang yang berdiri di tengah, memegang laptop dengan ekspresi penuh pertimbangan. Di sisi kirinya terpancar suasana hangat dengan ikon-ikon positif seperti buku, cahaya, dan koneksi antar manusia, sementara di sisi kanannya tergambar suasana muram dengan notifikasi berlebihan dan kesenjangan sosial — menggambarkan bahwa teknologi bisa menjadi berkah sekaligus beban,  tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Ilustrasi dibuat menggunakan Nano Banana Gemini

Dua Sisi Teknologi


Teknologi itu bukan perdebatan antara baik atau buruk. Yang menentukan adalah siapa yang memegangnya dan untuk apa ia smenggunakannya.

Pisau bisa dipakai untuk memotong sayur. Pisau juga bisa dipakai untuk melukai.

Tidak ada yang menyalahkan pisaunya. Yang selalu menjadi pertanyaan adalah siapa yang memegangnya, dalam konteks apa, dan apa niatnya.

Teknologi bekerja persis dengan cara yang sama.

Sisi yang menguntungkan

Tidak ada cara jujur untuk membicarakan teknologi tanpa mengakui apa yang sudah diberikannya kepada manusia selama ini.

Efisiensi. Pekerjaan yang dulu butuh seratus orang kini bisa dikerjakan oleh satu mesin dalam sepersekian waktu. Operasi bedah yang dulu berisiko tinggi kini bisa dilakukan dengan presisi yang tidak mungkin dicapai tangan manusia tanpa bantuan teknologi.

Koneksi. Seseorang di Jakarta bisa berbicara secara langsung dengan seseorang di Tokyo tanpa biaya yang berarti. Keluarga yang terpisah benua bisa tetap hadir satu sama lain. Komunitas yang sebelumnya tidak mungkin terbentuk karena penghalang geografis, kini bisa eksis dan berkembang.

Akses informasi. Ini yang paling sering diremehkan. Dua ratus tahun lalu, pengetahuan terkunci di perpustakaan yang hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu. Sekarang, hampir seluruh akumulasi pengetahuan manusia bisa diakses oleh siapa saja yang punya koneksi internet. Anak yang tumbuh di desa punya akses ke materi yang sama dengan anak yang sekolah di institusi terbaik dunia.

Ini yang sering disebut dengan demokrasi pengetahuan. Dan ini adalah salah satu pencapaian terbesar yang pernah dihasilkan oleh teknologi.

Sisi yang merugikan

Tapi teknologi yang sama juga membawa beban yang tidak ringan.

Ketergantungan. Coba bayangkan satu hari tanpa smartphone. Bagi sebagian besar orang, ini bukan sekadar tidak nyaman, ini terasa seperti kehilangan sebagian dari diri sendiri. Kita telah mendelegasikan begitu banyak fungsi kognitif ke perangkat, mengingat nomor telepon, membaca peta, menghitung, menjadwalkan, mengirim pesan, bahkan belajar harus pakai smartphone. Ketergantungan ini bukan masalah kecil. Ketika sistemnya error atau ketika aksesnya dicabut. Apa reaksi pertama kita?

Kesenjangan digital. Akses ke teknologi tidak merata. Di satu sisi ada mereka yang tidak hanya punya akses, tapi juga punya kemampuan untuk menggunakannya secara produktif. Di sisi lain ada mereka yang tidak punya akses sama sekali, atau punya akses tapi tidak punya kemampuan untuk memanfaatkannya. Kesenjangan ini tidak hanya mempertahankan ketidaksetaraan yang sudah ada, ia bahkan memperlebarnya.

Privasi. Setiap klik, setiap pencarian, setiap lokasi yang kita kunjungi, semua dicatat, disimpan, dan dianalisis. Sebagian besar orang menyetujui ini tanpa membaca apa yang mereka setujui. Data pribadi telah menjadi komoditas, dan sebagian besar dari kita menjadi produknya tanpa benar-benar memilih atau sadar untuk menjadi produk.

Distraksi. Teknologi yang dirancang untuk menarik perhatian, seperti media sosial, notifikasi, konten yang tidak ada habisnya, bekerja dengan sangat efektif dan masif. Terlalu efektif bahkan. Kemampuan manusia untuk fokus dalam durasi panjang sudah mulai menurun, dan ada banyak yang bilang bahwa desain dari teknologi itulah sebagai salah satu penyebab utamanya.

Dua cara berpikir tentang teknologi dan masyarakat

Setidaknya ada dua perspektif yang sering diperdebatkan, dan keduanya layak untuk kita ketahui.

Perspektif pertama adalah technological determinism, pandangan bahwa teknologi menentukan arah masyarakat. Bahwa begitu teknologi tertentu lahir, ia akan merubah cara manusia menjalani hidup, berpikir, dan berorganisasi. Dalam pandangan ini, teknologi adalah kekuatan yang bergerak sendiri, dan manusia hanya merespons.1

Perspektif kedua disebut dengan social shaping of technology, pandangan yang lebih kompleks. Bahwa teknologi tidak bergerak sendiri. Ia dibentuk oleh siapa yang membuatnya, siapa yang mendanainya, siapa yang memiliki akses ke hasilnya, dan nilai-nilai apa yang tertanam dalam desainnya. Dalam pandangan ini, teknologi adalah cermin dari masyarakat yang menciptakannya.2

Kenyataannya ada di antara keduanya. Teknologi memang membentuk perilaku manusia, tapi perilaku dan nilai manusia juga membentuk teknologi yang kita ciptakan dan cara kita menggunakannya.

Yang penting untuk dipahami, teknologi tidak netral. Setiap teknologi membawa nilai-nilai dari orang-orang yang membuatnya, keputusan-keputusan yang diambil dalam prosesnya, dan kepentingan-kepentingan yang ada di baliknya.

Siapa yang diuntungkan, siapa yang tertinggal

Ini adalah pertanyaan yang jarang diajukan dalam kelas teknologi biasa, padahal sangat penting.

Siapa yang paling diuntungkan dari revolusi digital? Sejujurnya, mereka yang sudah punya modal lebih, modal finansial untuk mengakses, modal pendidikan untuk memanfaatkannya, dan modal sosial untuk terhubung dengan jaringan yang tepat.

Teknologi, dalam banyak kasus, mempercepat mereka yang sebenarnya sudah bergerak cepat. Dan membuat mereka yang sudah tertinggal semakin tertinggal.

Bukan berarti teknologi harus disalahkan. Tapi ini adalah kenyataan yang harus dilihat dengan jelas oleh siapa pun yang ingin memahami teknologi secara penuh.

Pertanyaan untuk kita semua

Saya ingin meninggalkan beberapa pertanyaan untuk kita sama-sama renungkan.

Teknologi apa yang kita gunakan setiap hari yang paling meningkatkan kualitas hidup kita? Dan teknologi apa yang diam-diam paling banyak menyita waktu kita?

Apakah ada orang di sekitar kita yang tidak punya akses ke teknologi yang kita anggap wajar? Apa dampaknya bagi mereka?

Kalau kita suatu hari membangun sebuah produk atau teknologi, nilai-nilai apa yang ingin kita tanamkan di dalamnya? Dan siapa yang akan paling diuntungkan? Dan siapa yang mungkin akan dirugikan?

Tidak ada jawaban yang benar atau salah untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi orang yang tidak pernah menanyakannya kepada diri sendiri adalah orang yang membangun teknologi tanpa sadar akan konsekuensinya.

Dan konsekuensi dari teknologi, bisa jauh melampaui apa yang dibayangkan oleh pembuatnya.

Pada akhirnya . . .

Orang yang paham teknologi punya hak lebih besar, akses ke pekerjaan yang lebih baik, kemampuan untuk membangun alat yang memudahkan hidup, serta kapasitas untuk memahami dunia yang semakin digerakkan oleh sistem digital.

Tapi hak yang lebih besar selalu datang bersama tanggung jawab yang lebih besar. Mirip nasihatnya Uncle Ben ke Peter Parker.


Tanggung jawab untuk membangun teknologi yang mempertimbangkan dampaknya. Tanggung jawab untuk tidak hanya bertanya “apakah bisa dibuat?” tapi juga “apakah harus dibuat?” dan “untuk siapa ini dibuat?”


Catatan
Tulisan ini merupakan versi teks dari episode podcast “Sebelum Ngoding” yang bisa didengarkan di platform Spotify atau Noice.

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Determinisme_teknologi 

  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Social_shaping_of_technology