Ilustrasi seseorang berkacamata yang duduk di lantai di tengah ruangan penuh buku berserakan, kertas-kertas kusut, papan catatan penuh coretan, dan laptop yang menyala, dengan ekspresi lelah namun penuh tekad, menggambarkan perjalananpanjang penuh percobaan dan kegagalan dalam membangun kurikulum belajar yang bisa dipahami semua orang. Ilustrasi dibuat menggunakan Nano Banana Gemini

Sebelum Ngoding


Kalau kamu pernah belajar coding, mengikuti tutorial sampai habis, lalu menyadari kamu masih tidak tahu harus mulai dari mana ketika berhadapan dengan masalah yang baru. Kamu tidak sendirian. Dan kamu tidak bodoh. Kamu hanya tidak pernah diajarkan bagian yang paling penting.

Banyak orang belajar ngoding dan banyak juga yang tidak bertahan.

Ssetelah bertahun-tahun mengajar, menyusun kurikulum, dan duduk berhadapan langsung dengan ratusan orang yang mencoba memahami teknologi, saya punya satu kesimpulan yang cukup kuat, kenapa itu bisa terjadi.

Masalahnya bukan di kodenya. Masalahnya ada di apa yang datang sebelum kode itu ditulis.

Siapa saya

Perkenalkan, saya Malik. Saya pernah aktif menjadi seorang developer, mencoba terjun ke dunia pendidikan, dan saat ini masih aktif menjalankan bisnis kue yang berawal dari hobi berlama-lama di dapur. Perjalanan saya sedikit berbeda.

Menjadi developer adalah salah satu pekerjaan yang paling saya nikmati. Kerja dari mana saja, jadwal yang fleksibel, dan hampir tidak perlu berhadapan dengan banyak orang. Interaksi utama saya setiap hari adalah dengan laptop, dan untuk waktu yang cukup lama, itu terasa sempurna.

Tapi lama-lama, justru di situlah masalahnya. Ketika satu-satunya lawan bicara saya adalah layar, ada sesuatu yang mulai terasa kurang. Bukan dengan pekerjaannya, tapi dengan cara hidupnya.

Dari sana saya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda, yaitu dunia pendidikan. Saya mulai sebagai, guru SMK, tutor coding, masuk ke tim riset dan pengembangan kurikulum, sampai akhirnya menjabat sebagai business development manager. Perjalanan yang cukup panjang, dan saya belajar banyak di setiap tahapnya.

Saya sangat aktif bereksperimen dengan resep kue, roti, bahkan minuman. Tapi saya sering gagal. Bukan sekali dua kali, berkali-kali, berulang, dengan hasil yang tidak jauh berbeda setiap kalinya. Saya ubah takarannya, saya ganti urutannya, saya coba teknik yang berbeda. Tetap saja gagal. Ada titik di mana saya hampir menyerah dan berpikir mungkin memang ini bukan kemampuan saya.

Sampai saya menyadari satu hal, saya tidak pernah benar-benar memahami bahan-bahannya. Saya tahu cara mengikuti resep, tapi saya tidak tahu kenapa tepung harus ditakar sebanyak itu. Kenapa telur harus pada suhu ruang. Kenapa urutan pencampuran bahan itu tidak bisa sembarangan. Saya selama ini bereksperimen di permukaan, tanpa pernah turun ke fondasinya.

Begitu saya memahami itu, semuanya berubah.

Dan ketika saya bawa kesadaran itu ke dunia pendidikan, saya melihat pola yang persis sama. Ratusan murid yang ada di kelas, sudah mengikuti tutorial dari nol sampai jadi aplikasi, tapi tetap tidak bisa menjawab satu pertanyaan sederhana, “kenapa kode ini ditulis seperti ini?” Mereka frustrasi. Saya juga frustrasi. Saya sudah memberikan materi selengkap mungkin, tapi hasilnya tidak bergerak jauh.

Sampai saya menyadari hal yang sama seperti renungan saat di dapur, mereka tidak paham pondasinya. Mereka tahu cara mengikuti langkah, tapi tidak tahu kenapa langkah itu ada. Dan tanpa itu, semua yang diajarkan hanya menempel di permukaan, mudah diikuti, tapi mudah juga luruh ketika berhadapan dengan situasi yang baru.

Selama bertahun-tahun itu, saya melihat banyak hal dari dekat. Saya melihat bagaimana orang tersandung di titik yang sama berulang kali. Saya melihat kurikulum yang didesain untuk mengikuti tren, bukan untuk membangun pemahaman. Saya melihat industri pendidikan teknologi lebih sibuk mengejar hype daripada mengejar pemahaman pondasi.

Jujur, saya sendiri pernah berada di posisi yang tidak jauh berbeda dengan ratusan murid-murid saya. Pernah ada masa di mana saya mengerjakan terlalu banyak hal dalam satu waktu, merasa harus memahami segalanya dengan cepat, dan tidak pernah benar-benar tuntas di satu tempat pun. Saya mudah teralihkan. Satu topik belum selesai, sudah tertarik ke topik lain. Satu pekerjaan belum beres, sudah mengkhawatirkan pekerjaan berikutnya.

Dari situ saya menyadari sesuatu tentang diri saya sendiri, kelemahan itu tidak bisa dilawan dengan lebih keras berusaha. Ia hanya bisa diatasi dengan cara yang berlawanan, pelan, terstruktur, dari yang paling kecil, satu langkah satu waktu, tidak terburu-buru. Bukan karena saya tidak mampu bergerak cepat, tapi karena bergerak cepat di atas fondasi yang belum siap hanya menghasilkan bangunan yang mudah roboh.

Tanpa saya sadari, pengalaman itu menjadi prinsip yang akhirnya membentuk cara saya belajar, mengajar dan cara saya menyusun semua materi di sini.

Dan saya memutuskan untuk membangun sendiri apa yang selama ini ingin saya buat.

Di luar semua frustrasi itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah, saya selalu merasa senang ketika berhasil membuat seseorang akhirnya mengerti sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil untuk dipahami. Dan saya percaya, tidak ada konsep yang terlalu rumit untuk dijelaskan dengan cara yang tepat. Hanya perlu kesabaran, urutan yang benar, dan bahasa yang tidak membuat orang merasa bodoh sebelum mereka sempat mencoba. Itulah yang ingin saya lakukan di sini.

Sebelum Ngoding, kita harus belajar dari dasar.

Masalah yang saya lihat

Kalau kamu pernah mencoba belajar coding dan merasa ada yang tidak beres, ada yang kurang nyambung, ada yang terasa seperti menghafal tanpa benar-benar mengerti, kemungkinan besar kamu tidak salah. Hanya caranya yang kurang tepat.

Sebagian besar sumber belajar teknologi yang ada sekarang dimulai dari alat. Install ini, ketik ini, klik itu, lihat hasilnya. Cepat, visual, memuaskan secara instan. Tapi tidak bertahan lama. Besoknya kamu lupa.

Kamu bisa mengikuti tutorial selama berbulan-bulan dan di akhirnya masih tidak bisa menyelesaikan masalah yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya. Karena yang dibangun bukan pemahaman, yang dibangun hanya hafalan.

Masalah lain yang sama seriusnya adalah hype. Dunia teknologi itu bergerak cepat, dan ada industri besar yang terus mendorong orang untuk selalu belajar hal terbaru. Bulan kemarin Blockchain, bulan ini AI, bulan depan sesuatu yang lain. Orang berlari dari satu tren ke tren berikutnya tanpa pernah berdiri cukup lama di satu tempat untuk benar-benar memahaminya.

Hasilnya, banyak orang yang tahu tentang banyak hal, tapi tidak benar-benar menguasai apapun. Dan yang lebih berbahaya, mereka tidak punya fondasi berpikir yang cukup kuat untuk belajar sendiri ketika tidak ada tutorial yang menuntun.

Apa yang berbeda di sini

Sebelum Ngoding dirancang dengan satu prinsip utama, fundamental over hype, pahami dulu cara kerjanya, sebelum ikut-ikutan memakainya.

Sebelum kita bicara tentang bahasa pemrograman, kita bicara tentang bagaimana komputer bekerja. Sebelum kita bicara tentang komputer, kita bicara tentang logika. Sebelum kita bicara tentang logika, kita bicara tentang teknologi itu sendiri, apa itu, dari mana datangnya, dan kenapa ia ada.

Ini bukan cara yang cepat. Tapi ini adalah cara yang membangun pemahaman yang tidak mudah hilang.

Setiap topik yang dibahas di sini dipilih bukan karena sedang ramai dibicarakan, tapi karena ia adalah bagian dari fondasi yang perlu ada sebelum langkah berikutnya diambil. Setiap konsep dibahas sampai tuntas sebelum berpindah ke konsep berikutnya.

Format yang dipilih adalah audio dan teks, bukan karena mengikuti tren podcast. Tapi karena saya tahu bahwa banyak orang yang ingin belajar tidak selalu punya waktu duduk di depan layar. Belajar sambil commute, sambil jalan, sambil istirahat, itu adalah kenyataan hidup sebagian besar orang. Dan materi ini dirancang untuk bisa dikonsumsi dalam kondisi itu.

Untuk siapa ini dibuat

Untuk kamu yang pernah mencoba belajar teknologi atau coding, tapi di tengah jalan merasa ada yang tidak nyambung. Seperti kamu mengikuti langkah-langkahnya tapi tidak benar-benar mengerti kenapa langkah itu ada.

Untuk kamu yang ingin paham teknologi secara lebih dalam, bukan sekadar bisa menggunakan alatnya, tapi mengerti cara kerjanya.

Untuk kamu yang tidak punya banyak waktu duduk belajar, tapi masih ingin terus bergerak. Yang terbiasa belajar di perjalanan, di sela-sela waktu, dengan cara yang tidak membutuhkan layar.

Untuk kamu yang tidak ingin belajar karena ikut tren, tapi karena ingin benar-benar mengerti.

Dan jujur, series ini mungkin tidak cocok untuk kamu yang sedang mencari cara cepat untuk bisa ngoding dalam waktu satu atau tujuh hari. Di sini kita bergerak dengan pelan, dengan sengaja, dari fondasi, selangkah demi selangkah. Tidak ada shortcut, karena shortcut adalah alasan kenapa banyak orang tersandung di tempat yang sama berulang kali.

Ke mana kita akan pergi

Perjalanan ini dimulai dari yang paling mendasar. Apa itu teknologi, bagaimana sejarahnya, kenapa ia lahir, dan apa dampaknya terhadap cara manusia hidup.

Dari sana kita akan masuk ke jantung dari semua ini, yaitu komputer. Bukan cara pakainya, tapi cara kerjanya. Bagaimana komputer menyimpan dan memproses informasi. Bagaimana ia berbicara dalam bahasa yang sangat berbeda dari bahasa manusia.

Kemudian kita akan masuk ke cara berpikir, logika, algoritma, cara memecah masalah besar menjadi langkah-langkah kecil yang bisa diselesaikan satu per satu.

Dan setelah semua fondasi itu terpasang, barulah kita sampai di titik di mana kita mulai menulis kode. Bukan karena kita menghafal sintaksnya, tapi karena kita sudah punya cara berpikir yang memang dibutuhkan untuk itu.

Bagi siapapun yang membaca tulisan ini untuk pertama kalinya, senang bisa menemani perjalanan belajarmu. Selamat datang di versimalik, mari kita mulai dari dasar.


Catatan
Tulisan ini merupakan versi teks dari episode podcast “Sebelum Ngoding” yang bisa didengarkan di platform Spotify atau Noice.