Ilustrasi dibuat menggunakan Nano Banana Gemini
Puluribu
- Cerita |
- Oleh Malik |
- 11 Februari 2024
Saya lupa hari itu tepatnya hari apa, lagi kerja apa dan kemana, yang saya ingat cuma kerja pulang lebih cepat dari biasanya. Biasanya sampai stasiun sekitar jam 7 - 8 malam, tergantung seberapa tangguh kita berebutan kereta di stasiun - stasiun transit.
Seperti biasa saya pulang kerja naik angkutan umum KRL, turun di salah satu stasiun di daerah tangerang. Sampai di stasiun saya gak langsung keluar, tapi duduk dulu di peron sebentar sampai semua orang yang turun di stasiun yang sama sudah turun semua dari peron. Karena lumayan pegel berdiri dan berhimpitan di dalam gerbong KRL, jadi harus istirahat dan isi tenaga lagi sebelum keluar dari peron.
Di peron sudah mulai sepi, waktunya saya tarik napas dalam dalam (jangan lupa dibuan dan napas normal seperti biasa) dan lanjut jalan menyeberangi rel kereta, karena kebetulan peron ketibaan dengan pintu keluar stasiun posisinya berseberangan. Lumayan masih tertinggal banyak lelah, karena duduk hanya sebentar dan kepikiran sebentar lagi masih harus lanjut naik motor untuk sampe ke rumah.
Ketemu orang tak dikenal
Sampai di dekat gate KRL, saya melihat ada satu orang bapak - bapak menggunakan masker dengan tentengan tas kecil di tangannya berdiri di dekat gate tapi tidak bergerak, kecuali hanya berdiri saja menatap jauh ke arah peron. Kemudian saya keluar dari gate, tiba - tiba saja bapak - bapak ini mendekat dan berkata (saya lupa kalimat tepatnya apa)
“Pak, mau minta tolong isi kartu sepuluh ribu aja saya mau pulang gak bawa duit”, kalimat dan nadanya sama sekali tidak terkesan memaksa ataupun mengemis. Saya sempat melihat ke arah wajahnya seperti sambil tersenyum (senyum di balik masker). Sempat terlintas di pikiran, khawatir ini adalah penipuan, tapi penipuan jenis apa dan bagaimana modusnya, sempat bingung. Tapi saya sudah tidak bisa berhenti sejenak, harus buru buru lanjut pulang mumpung masih sore.
Tanpa ada diskusi, saya langsung minta kartu KRLnya dan diapun seperti bingung dan bilang “Boleh pak?”. Sambil dia menyodorkan kartunya, tanpa jawaban saya pun langsung ambil dan bergegas ke loket yang tidak jauh dari tempat kita bertemu. Sambil jalan saya tanya “Mau kemana pak?”, beliau jawab ingin pulang ke Kemayoran.
Karena sempat ragu apakah ini penipuan atau bukan, kartu bapak itu sempat jatuh dari tangan saya. Mungkin karena saya bingung, jadi agak grogi.
Selesai isi ulang kartu KRL, saya langsung kasih ke bapak tersebut. Dengan nada yang senang beliau bilang terima kasih dan saya pun bilang “sama - sama” sambil mengacungkan jempol, karena khawatir suara saya tidak terdengar.
Sederhana
Kejadian itu terlihat sederhana, tidak banyak drama di dalamnya. Tapi sepanjang perjalanan pulang ke rumah saya berpikir, bagaimana jika saya yang butuh sepuluh ribu itu? Akankah ada yang mau mengisi kartu KRL saya secara cuma - cuma?
Sepuluh ribu rupiah bagi sebagian besar orang nilainya tidak terlalu besar. Tapi bagi bapak itu, setidaknya pada saat itu, beliau sangat butuh. Bisa jadi ada janji yang harus ditepati, atau ada pekerjaan yang harus segera kerjakan, atau ada keluarga yang sedang menunggu saat itu di Kemayoran. Dalam keadaan seperti itu, semua orang pasti sangat butuh dengan sepuluh ribu tersebut dan nilai sepuluh ribu rupiah dalam keadaan itu pasti sangatlah berharga.
Kita pasti pernah merasakan hal yang sama, sangat butuh dengan sesuatu yang terkadang dianggap sepele. Saat ini mungkin kita belum butuh, tapi disaat yang bersamaan, orang lain akan lebih butuh dengan sesuatu itu.