Ilustrasi dibuat menggunakan Nano Banana Gemini
Rumah Madrasah Pertama Anak: Catatan dari Sekolah Orang Tua SD Al Amanah
- Cerita |
- Oleh Malik |
- 25 September 2026
Jumat siang, 25 September 2026, saya kembali mengikuti agenda Sekolah Orang Tua yang diselenggarakan SD Al Amanah, kali ini secara daring. Temanya sangat berkesan, “Rumah Madrasah Pertama Anak”, dengan pemateri Ustadz Awang Insandaru, S.E.I., Direktur Pendidikan Sekolah Al Amanah.

Poster acara “Sekolah Orang Tua” SD Al Amanah yang diselenggarakan secara daring pada 25 September 2026.
Jika pertemuan sebelumnya lebih banyak membahas konsep dasar pendidikan berbasis fitrah, pertemuan kali ini lebih menekankan satu hal: rumah adalah tempat anak pertama kali belajar, bahkan sebelum ia mengenal apa itu sekolah.
Berikut catatan dan penjabaran yang saya dapatkan, sekaligus pengingat untuk saya pribadi.
Muqaddimah: Anak adalah Amanah
Ustadz membuka dengan mengingatkan kita untuk bersyukur bahwa sebagian dari kita dikaruniai anak. Allah ﷻ lah yang berkehendak memberikan keturunan kepada makhluk-Nya. Maka, menjaga sebaik-baiknya apa yang telah Allah ﷻ anugerahkan adalah kewajiban kita.
Modul Pendamping Orang Tua
Setiap orang tua mendapatkan buku panduan pendamping khusus dari sekolah. Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan pemandu bagi orang tua untuk mendidik anak sekaligus menyamakan persepsi antara sekolah dan rumah. Jika sekolah mengajarkan nilai tertentu, nilai itu perlu dikuatkan di rumah dengan cara yang sama agar anak tidak bingung.
Buku ini berisi panduan untuk merealisasikan rencana aksi. Mungkin masih ada beberapa rencana aksi yang belum tertuang utuh di dalamnya, tapi setidaknya buku ini bisa mengarahkan kita untuk merencanakan aktivitas. Poin pentingnya, panduan ini sebaiknya dilakukan bersama-sama antara ayah dan ibu, lalu dievaluasi bersama pula.
Sebelum Anak Mengenal Pendidikan Formal
Sebelum anak tahu bahwa ada yang namanya pendidikan formal, anak sudah belajar banyak hal di rumah. Ia belajar berbicara, belajar meminta sesuatu, belajar berkomunikasi. Semua aktivitas kehidupan ini benar-benar ditiru dari orang tuanya.
Bahkan cara ia memperlakukan orang, cara ia memahami sebuah kebahagiaan, semuanya itu datang dari orang tua. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tuanya adalah guru pertamanya.
Tiga Pertanyaan Pemantik dari Ustadz
Selain pertanyaan pemantik dari buku, Ustadz Awang juga memberikan tiga pertanyaan yang perlu kita jawab dengan jujur:
- Kebiasaan apa dalam diri saya sebagai orang tua yang ditiru anak?
- Dalam situasi apa saya paling mudah kehilangan kesabaran ketika mendidik?
- Apa satu hal baik yang ingin saya bangun lebih kuat dalam hubungan dengan anak?
Jawaban-jawaban ini sebenarnya tidak harus dilihat oleh orang lain, cukup dijadikan komitmen dan bahan introspeksi pribadi dalam mendidik anak. Namun, saya dan istri memilih untuk berbagi, semoga bisa menjadi pelajaran bersama bagi orang tua yang membacanya.
Kebiasaan yang Ditiru Anak
Versi saya: bongkar-bongkar atau utak-atik barang, dan ternyata kebiasaan ini ditiru anak laki-laki kami.
Versi istri: cara memakai kaos kaki anak perempuan kami — dimasukkan ke dalam legging, bukan di luar legging.
Kecil dan sepele, tapi ini menyadarkan kami bahwa anak menyerap kebiasaan orang tuanya tanpa kami sadari.
Situasi Paling Mudah Kehilangan Kesabaran
Versi saya: saat anak tidak mau melakukan apa yang saya minta.
Versi istri: saat membangunkan anak untuk shalat Subuh.
Dua-duanya memang situasi yang menuntut ketenangan ekstra, dan justru di sanalah kesabaran kami biasanya jebol.
Satu Hal Baik yang Ingin Dibangun
Kami ingin membangun rasa aman, di mana anak bisa bercerita apa saja kepada kami berdua, tanpa rasa takut dimarahi atau dihakimi. Semoga ini bisa terus kami jaga.
Keteladanan: Tiang Pendidikan Iman, Adab, dan Akhlak
Orang tua perlu memperhatikan pendidikan iman, adab, dan akhlak di rumah. Bagaimana tips dan triknya? Agar mudah, Ustadz menegaskan bahwa kita harus memulainya dari memperbaiki diri sendiri. Di sanalah keteladanan berada.
Contohnya shalat. Jangan menyuruh anak shalat, sementara kita sendiri tidak memperhatikan waktu shalat. Jangan minta anak ke masjid, sementara kita tidak mencontohkannya. Ketika kebaikan yang sudah menjadi prinsip ternodai karena tidak kita contohkan, terjadilah rusaknya fitrah dan penyimpangan akhlak, baik pada diri kita maupun anak-anak kita.
Terapi yang paling mudah untuk menyembuhkan ini adalah memperbanyak istighfar.
Pendidikan Abad ke-21 dan Tazkiyatun Nafs
Ustadz juga menyambungkan tema ini dengan keterampilan abad ke-21: komunikasi, kolaborasi, kreatif, dan critical thinking. Di antara semuanya, yang terbaik adalah kemampuan mengkritik diri sendiri. Siapa sebenarnya kita ini? Apa kelebihan dan kekurangan kita?
Orang yang mampu mengenali dirinya sendiri adalah orang yang banyak beristighfar, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ. Ini cara paling ampuh untuk membuat jiwa semakin bersih, yang dalam istilah agama disebut tazkiyatun nafs.
Satu hal yang perlu digarisbawahi: keburukan bisa terjadi ketika orang tua melakukan intervensi terhadap kebaikan, atau ketika anak yang lahir dengan fitrah justru disimpangkan oleh intervensi tersebut.
Sesi Tanya Jawab: Empat Pertanyaan yang Mengena
Anak Laki-laki yang “Drama” di Pagi Hari
Bagaimana menyikapi anak yang siang dan sorenya semangat ke masjid dan shalat, tapi pagi harinya lumayan drama, padahal waktu tidurnya sudah cukup? Anaknya laki-laki.
Ustadz menjelaskan, anak laki-laki di awal pagi memang cenderung menampilkan kebiasaan di luar kesadaran, dan pola itu sebenarnya tidak terpola. Begitu ia sudah sadar, biasanya tidak seperti itu lagi. Ini merupakan hal yang fitrah bagi anak laki-laki.
Proses tumbuh dewasanya memang mengalami keterlambatan, baru benar-benar dewasa di usia 14–15 tahun, bahkan bisa sampai 17 tahun. Dan kelak bisa jadi mereka lebih dewasa daripada orang dewasa pada umumnya.
Anak laki-laki akan menjadi pemimpin, sehingga prosesnya memang panjang. Ustadz juga memberikan sedikit bocoran: jika anak bertipe kinestetik, sering pegang leher atau pundaknya, atau sering memeluk, sampai frekuensinya sama-sama nyambung. Dengan begitu, apa yang kita sampaikan atau nasihatkan bisa diterima dengan baik oleh anak.
Anak yang Susah Murajaah
Bagaimana menghadapi anak yang susah murajaah? Kalau dipaksa malah jadi malas-malasan. Padahal waktu murajaah dan main sudah dipisah.
Menurut Ustadz, upaya memisahkan waktu main dan waktu murajaah untuk anak adalah langkah yang baik. Beliau pun berbagi pengalaman pribadi. Dulu ketika anak-anaknya masih kecil, beliau tidak menyediakan waktu khusus untuk murajaah, melainkan menciptakan waktu di segala kondisi, agar tanpa disadari anak-anak melakukannya sendiri. Misalnya saat bermain atau sedang berkendara, Ustadz memancing anak dengan potongan ayat untuk dilanjutkan kembali oleh anaknya.
Hasilnya, ketika anak beliau masuk SD, kemampuan mengaji iqra anaknya tidak sebanding dengan anak-anak lainnya, ia cenderung tertinggal. Namun di akhir kelas 1, saat tes baca Al-Quran, anaknya justru dikategorikan naik ke bacaan Al-Quran tanpa melalui jenjang iqra. Karena murajaah diciptakan di banyak waktu, anak tidak merasa terbebani.
Komunikasi dengan Anak Perempuan yang Pubertas
Bagaimana cara berkomunikasi dengan anak perempuan yang sedang memasuki masa pubertas? Saya pernah merasa sedih ketika ia lebih memilih curhat ke orang lain daripada ke saya dan istri. Bagaimana menghadapi anak yang sedang dalam masa seperti ini?
Sebagaimana isyarat hadits Nabi ﷺ, Ustadz menyebutkan bahwa buah kesabaran orang tua yang memiliki tiga anak perempuan, kelak akan menjadi tameng penghalang dari neraka.
“Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar dalam menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka.”
— HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, hadits ini shahih
Mendidik anak perempuan sama dengan mendidik umat, karena kelak di rumahnya ia akan mendidik anak-anaknya. Ini butuh kesabaran dan pengorbanan yang luar biasa.
Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Jangan sampai anak perempuan kita tergoda dengan lelaki lain. Ketika ia sudah tidak lagi terbuka kepada ayahnya, sembuhkan dengan bahasa cinta. Sediakan banyak waktu untuk anak dalam kegiatan spesial, misalnya mengajaknya makan bersama. Sampaikan sayang kita lebih dulu, sebelum anak menceritakan apa yang ingin ia ceritakan.
Kalau bahasa verbal belum bisa mengembalikan cintanya kepada kita, gunakan bahasa perilaku, misalnya dengan memberi hadiah secara terus-menerus, sampai ia sadar bahwa ayahnya adalah teladan. Ketika ia sudah cinta kepada ayahnya, ia akan cenderung mencari pasangan hidup yang seperti ayahnya.
Perlu diingat pula, anak perempuan usia 0–10 tahun sebaiknya dekat dengan ibunya, lalu saat baligh beralih dekat dengan ayahnya. Untuk anak laki-laki, kebalikannya: dekat dengan ayahnya terlebih dahulu, baru kemudian dengan ibunya.
Yang juga menarik, Ustadz menyarankan anak diajak ke alam, misalnya camping. Karena alam tidak bisa dimodifikasi sebagaimana adanya, inilah yang membuat anak mampu beradaptasi sekaligus mengakselerasi kedewasaannya.
Kita Produk Pendidikan Zaman Dulu
Sebagian besar dari kita adalah produk pendidikan VOC (zaman dulu yang keras). Sedangkan sekolah orang tua ini mengajarkan gaya pendidikan yang jauh berbeda. Kadang kita sulit menerapkannya karena merasa pendidikan orang tua kita ke kita dulu adalah yang paling bagus. Apakah pendidikan zaman dulu itu salah, atau sekolah orang tua ini mengajarkan metode baru, ataukah mengajarkan kita pendidikan anak yang sebenarnya?
Ustadz menjawab dengan bijak. Benar, kita adalah produk pendidikan zaman dulu yang keras, sering disebut model pendidikan VOC. Namun, beliau tidak bisa serta-merta menyalahkan cara mendidik orang tua kita. Faktor penyebabnya antara lain kondisi yang sudah sangat berbeda, baik dari pemahaman tentang cara mendidik anak di zaman itu, maupun dari kondisi lingkungannya.
Zaman dulu alam terbuka masih banyak, sehingga sebagai anak-anak kita masih bisa menyembuhkan luka-luka pengasuhan lewat alam. Zaman sekarang lingkungan sudah jauh berbeda. Karena itu, tahapannya memang harus benar-benar diubah mulai dari diri kita sendiri dan dari rumah, agar penyimpangan akhlak pada anak bisa diminimalkan di zaman yang berbeda ini.
Demikian catatan siang yang berharga ini. Seperti biasa, acara Sekolah Orang Tua selalu meninggalkan pekerjaan rumah untuk saya dan istri: memperbaiki kebiasaan, menjaga kesabaran, dan membangun rasa aman di rumah.
Rumah memang madrasah pertama anak. Madrasah itu tidak akan pernah berjalan baik selama gurunya tidak pernah belajar dan memperbaiki diri.
Semoga Allah ﷻ memudahkan kita menguatkan kesabaran dalam mendidik anak-anak kita, menjadikan anak-anak kita permata yang bisa menjadi tameng bagi orang tuanya, dan mengumpulkan kita kembali dalam surga-Nya bersama orang-orang yang kita sayangi. Aamiin.